Kemudian Lovren dan rekan-rekannya di tim nasional Kroasia membuat sejarah mengejutkan dengan mencapai final Piala Dunia pertama mereka di Rusia. Sekali lagi, Lovren harus menghadapi kekalahan telak saat Antoine Griezmann dkk menghancurkan pertahanan rapat Kroasia dengan kemenangan 4-2.
Kisah Antoine Griezmann dua tahun lalu sungguh berbeda dengan apa yang terjadi pada musim panas 2018 ini. Pada 2016 Griezmann membawa Atletico Madrid ke final Champions League kedua mereka setelah edisi 2014 dan sekali lagi berjumpa dengan musuh yang sama, Real Madrid.
Namun, tak ada perubahan nasib dari yang terjadi pada 2014, Griezmann dan Atletico gagal menuju tangga juara setelah kalah melalui adu penalti.
Dewi Fortuna masih belum mau menghampiri Griezmann di gelaran final Euro 2016 saat Prancis yang menjadi tuan rumah hanya kalah tipis 0-1 dari Portugal.
1. Dejan Lovren (2018 - Champions League dan Piala Dunia)
Sama dengan Robben yang pada 2010 menjadi pemain Bayern Munich dan tim nasional Belanda, Mark van Bommel juga mengalami nasib serupa. Van Bommel merupakan kapten dari Bayern Munich kala itu.
Pada final 2010, yang diingat sebagai final Piala Dunia yang brutal karena 14 kartu kuning yang keluar dari kantong wasit, Belanda harus bermain dengan 10 orang sejak menit 109. tujuh menit berselang, sepakan Andres Iniesta melahirkan mimpi buruk kedua di musim panas 2010 bagi Van Bommel.
2. Antoine Griezmann (2016 - Champions League dan Euro)
Musim panas 2010 sepertinya akan menjadi musim panas yang indah ketika Arjen Robben berhasil membawa Bayern Munich ke final Champions League pertama mereka sejak 2002. Performa Robben sepanjang kompetisi pun juga luar biasa dengan kemampuannya sebagai winger jempolan kian diakui. Apalagi, musim tersebut menjadi musim perdananya bersama Bayern
Namun, malang tak bisa ditolak, kebrilinan Robben tak cukup untuk menaklukkan Inter Milan di Santiago Bernabeu yang meraih kemenangan meyakinkan 2-0.
Robben punya kesempatan untuk melampiaskan kekecewaannya dua bulan kemudian ketrika dia membawa Belanda ke final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Sekali lagi, Robben harus tertunduk sedih karena Belanda harus takluk 0-1 atas Spanyol dalam laga yang berjalan hingga 120 menit.
3. Mark van Bommel (2010 - Champions League dan Piala Dunia)
Pria yang menjadi asisten pelatih untuk Roberto Martinez di Piala Dunia 2018 ini juga pernah mengalami kegagalan yang menyakitkan dalam rentang waktu dekat. Dia menjadi penggawa penting Arsenal saat pertama kali menginjakkan kaki di final Champions League pada Mei 2006. Akan tetapi, The Gunners harus takluk 1-2 atas Barcelona saat itu.
Kegagalan Henry berlanjut di final Piala Dunia 2006 yang dhelat di Jerman. Dalam partai final yang mendebarkan, Prancis yang dibelanya harus kalah atas Italia setelah melewati babak adu penalti.
4. Arjen Robben (2010 - Champions League dan Piala Dunia)
Julukan Mr. Runner Up yang disematkan kepada Michael Ballack berawal dari dua kekalahan yag dideritanya di dua final pada musim panas 2002. Setelah gagal membawa Bayern Leverkusen yang menjuarai Champions League karena ditaklukkan Real Madrid di final, Ballack kembali harus menelan pahit serupa dua bulan berselang.
Jerman berjumpa Brasil di final Piala Dunia 2002, edisi yang pertama kali diselenggarakan di luar benuar Eropa dan Amerika, yakni di Jepang_Korea Selatan. Sayangnya, Jerman harus mengalami kekalahan 0-2 dari Tim Samba.
5. Thierry Henry (2006 - Champions League dan Piala Dunia)
Bagaimana rasanya menelan dua kekalahan dalam sebuah partai final di musim yang sama? Seperti yang dialami beberapa pemain ini, mereka harus rela mencicipi dua kekalahan di dua final turnamen yang berbeda dalam satu musim, yakni di level antar klub dan level internasional bersama negaranya.
Sepakbola memang bisa menjadi sangat kejam untuk para pelaku yang berkarier di lapangan. Berikut beberapa pemain yang merasakan pengalaman pahit tersebut.
6. Michael Ballack (2002 - Champions League dan Piala Dunia)
Sumber






